Latest Post

Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Budaya Merayakan 17 Agustus Bersama 'Belanda Depok'

LEBIH dari setengah abad sudah Belanda meninggalkan Indonesia sebagai negeri jajahan. Banyak cerita dan peninggalan yang ditinggalkan negara itu pascapenjajahan yang di Jawa berusia 250 tahun. Salah satunya keberadaan keturunan 12 marga bekas budak yang dibebaskan saudagar Belanda, Cornelis Chastelein. Mereka bermukim di kawasan Depok Lama, Bogor, Jawa Barat, kerap disebut 'Belanda Depok'.

-- Indonesia Raya--

Suasana peringatan 62 tahun kemerdekaan Indonesia masih mewarnai Depok, Jawa Barat hingga akhir Agustus ini. Kibaran bendera merah-putih masih menghiasi rumah-rumah dan sepanjang Jalan Pemuda, Depok Lama. Daerah ini dikenal sebagai tempat bermukim komunitas Belanda Depok. Kawasan ini berada di tengah-tengah kota Depok atau perbatasan antara kawasan Perumnas Depok I dan II. Jejeran rumah tua dengan konstruksi bangunan bergaya Belanda masih banyak ditemui di sekitar Jalan Pemuda.

Bendera merah-putih tak hanya berkibar di permukiman, tapi juga di gedung Sekolah Dasar Pancoran Mas dan SD Depok 2. Gedung sekolah ini dulunya adalah sekolah penginjilan dan sekolah anak-anak Belanda, sebelum dibubarkan pada 1942.

Laela Leander adalah salah satu keturunan Belanda yang tinggal di Depok. Namanya memang bermarga Belanda, tapi wajah Laela lebih tampak keturunan Ambon, kulit hitam dan rambut keriting. Laela adalah generasi ke tujuh marga Leander yang tinggal di Depok. Meski mengaku jarang berbaur dengan warga di luar komunitasnya, Laela mengaku jiwanya tetap merah-putih.

Laela Leander: "Sangat penting buat saya, arti kemerdekaan buat kita juga ya, istilahnya orang Depok yang sudah berbaur tambah bersatu lagi gitu aja, ngak ada perbedaan sudah seperti biasa saja dan harus terus dijaga saja"

Tidak Merasa Istimewa-

Di sini, semangat merayakan kemerdekaan terasa sampai pelosok gang. Berbagai lomba menjadi kegiatan rutin komunitas Belanda Depok tiap perayaan 17an. Antonio Loen, yang sudah tinggal di sini sejak 60 tahun lalu, adalah salah seorang sesepuh Belanda Depok.

Antonio Loen: "Macem-macem, banyak, seluruh kegiatan dari olah raga, dari maen catur, badminton, tarik tambang itu ada, sampai naik pinang itu ada… kita selalu ikut"

Meski sudah bertahun-tahun tinggal di Depok, sebutan 'Belanda Depok' ternyata meresahkan Sisca Bacas. Ia merasa sebutan itu membuatnya diperlakukan berbeda dengan warga Indonesia lain. Padahal, lahir batin, dia mengaku orang Indonesia.

Sisca Bacas: "Sama saja sih, ikut merayakan biasa sama semua pada umumnya, kayak warga negara Indonesia lainnya aja. Setelah kemerdekaan kan nggak ada khusus, nggak ada istimewanya kita orang Belanda. Karena kita angkatan setelah merdeka jadi nggak ada khususnya"

Bukan Antek Belanda-

Demi memelihara nasionalisme, Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang beranggotakan keturunan Belanda Depok, mewajibkan setiap sekolah di kawasan komunitas ini untuk menggelar upacara bendera tiap 17 Agustus, sama seperti sekolah lainnya. Ketua LCC Valentino Jonathans menegaskan, tak ada alasan untuk tidak ikut merayakan kemerdekaan bangsa ini. Dia menggarisbawahi komunitas Belanda Depok tetap orang Indonesia, meski ada kata 'Belanda' di sana. Kami bukan antek Belanda, kata dia.

Valentino Jonathans: "Saya kira sama saja, kita bangsa indonesia bukan bangsa di luar indonesia. Jadi tetep merayakan 17 Agutus dengan tidak berbeda dengan yang lain. Sampai saat ini sekolah-sekolah di bawah yayasan juga mengadakan perlombaan-perlombaan, bahkan 17 Agustus upacara di sini. Dibilang Belanda Depok kita juga keberatan, karena kita asli orang-orang Indonesia yang diambil Cornelis Chastelein dari daerah Timur dibesarkan dan didik dan dibesarkan di sini"

Kini sebetulnya sudah tak ada lagi yang murni bisa disebut sebagai 'Belande Depok'. Sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal berkisah, sebagian besar mereka telah kawin campur dengan warga sekitar.

J.J. Rizal: "Sekarang udah nggak ada ya, bahkan kalau dulu memang anak emasnya pemerintah kolonial, bahkan dulu Depok punya presiden Depok dan keluarnya masih ada sekarang, tahun 60 berubah sama sekali. Banyak perkawinan campur dan tidak ada yang orang Belanda asli Indonesia terutama Bali dan Indonesia bagian timur. Tahun 60an, yang menarik cara mereka berasimilasi bermasyarakat melalui bintang sepak bolanya seperti Sudira itu bintang sepak bola Depok dulu"

--Asal Muasal Belanda Depok--

Belanda Depok tak lepas dari sejarah penjajahan Belanda. Ketika VOC masih berkuasa pada 1696, Cornelis Chastelein membeli tanah seribuan hektar mencakup Depok masa kini.

Sebagai tuan tanah, Chastelein punya 100an pekerja. Mereka didatangkan dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina. Ia juga menyebarluaskan agama Kristen kepada para budaknya, lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, disingkat Depok. Dari sinilah rupanya nama kota ini berasal.

Menjelang tutup usia pada 1714, Cornelis Chastelein menulis surat wasiat.

"...Maka hoetang jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe... dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,..." 

-Jadi Orang Merdeka-

Selain wasiat itu. Cornelis Chastelein juga mewariskan tanahnya kepada seluruh budak yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status budak menjadi orang merdeka. Ada 12 marga yang sempat menjadi pekerja Cornelis Chastelein, yaitu marga Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Soedira, dan Sadokh. Kini sudah tidak ada lagi marga Sadokh karena sudah punah. Keturunan marga-marga inilah yang kerap disebut 'Belanda Depok'.

Ketua Lembaga Cornelis Chastelein, Valentino Jonathans mengatakan, setidaknya ada tujuh ribu warga komunitas Belanda Depok yang terdaftar di Yayasan LCC. Mereka tersebar di berbagai daerah dan negara.

Valentino Jonathans: "Pada awalnya memang ada 150 seperti yang saya ceritakan, sekarang peninggalannya sekitar 7000-an kepala yang ada masih terdaftar itu di yayasan yang ada di Depok, saya kira masih banyak juga yang belum ada tidak terdaftar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain, juga mungkin banyak saudara-saudara kita yang tinggal di luar negeri".---------- Di antara mereka, sepertiganya adalah keturunan asli Belanda yang menikah dengan orang Indonesia. Atau keluarga Belanda yang kadung senang tinggal di Indonesia

.-Sekadar Label
 Sebutan 'Belanda Depok' sebetulnya hanya label belaka bagi orang pribumi yang mendapatkan keistimewan dari pemerintah Belanda kala itu. Mereka menyandang 12 marga pekerja Cornelis Chastelein. Tapi kata sesepuh Belanda Depok, Antonio Loens, keistimewaan itu justru memicu kecemburuan warga lain. Mereka pun kerap dituding sebagai 'antek' Belanda saat menjajah Indonesia. Bahkan, kebudayaan Belanda dan perayaan hari kelahiran Cornelis Chastelein ikutan dilarang.
Antonio Loen: "Yang disebut Belanda sebenarnya orang memberikan julukan kepada kami sebagai penduduk asli Depok Belanda Depok, karena perilaku mereka seperti Belanda karena didik Belanda sebelum pribumi sekolah, kami sudah sekolah. Makanya revolusi 1945 warga Depok banyak yang tewas dibunuhin pejuang karena dianggap antek Belanda, karena berpuluh-puluh tahun hidup mendapat keistimewaan Belanda"

-Kurang Membaur-

Marga Belanda pemberian Chastelein rupanya bukan satu-satunya pemicu kecemburuan. Sesepuh masyarakat Betawi di Depok, Jamruh, menambahkan, ini juga karena mereka kurang berbaur dengan warga sekitar.

Jamruh: "Karena mereka itu anak cucunya yang 12 itu sampai sekarang ya, sehari-hari menggunakan Bahasa Belanda, karena sekolah yang dulunya diharuskan Bahasa Indonesia mereka tidak mau dan pake Bahasa Belanda. Dan mereka adat istiadat seperti orang Belanda, tidak mau dipanggil bapak, maunya oom atau menneer, yang perempuan tante".

Kecemburuan ini memuncak di tahun 1950an. Ratusan rumah orang Belanda Depok, yang kini jadi Stasiun Depok Lama, habis dibakar warga sekitar. Penyebabnya, kata Jamhur, mereka tak mengakui bendera merah-putih sebagai lambang negara.

Jamruh: "Katanya itu, disuruh pasang bendera merah putih tidak mau, menjawab salam merdeka juga nggak mau. Juga kemungkinan ada dendam lama orang-orang yang berada di luar mereka tertekan, mungkin tertekan oleh mereka tertekan oleh tuan tanah ya… banyak masalahnya".

Berubah

Kini komunitas Belanda Depok dan warga sekitar hidup damai. Jamhur bahkan kagum dengan kebiasaan dan komitmen komunitas ini dalam menjaga lingkungan.
Jamhur: "Jadi kalau yang namanya hukum, mereka tidak akan tawar-tawar lagi karena undang-undangnya gitu. Tapi kalau diajak musyawarah agak susah, karena mereka dasarnya hukum aja. Contohnya diajak ronda nggak bakal mau karena ada polisi, begitu juga kebersihan itu bukan tugsa warga tapi tugas PU, tapi kalau bayar PBB mereka bayar duluan.

Sumber: Ranesi, KBR68H, 23-08-2007

potensi wisata Mengenal Sejarah Kota Depok dan Bangunan Kolonial

Salah satu potensi wisata yang dikembangkan pemerintah Depok adalah kawasan bangunan kolonial. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda tersebut berad di satu kawasan kota Depok.

Di kawasan bangunan Kolonial ini Anda dapat menjumpai Jembatan Panus yang melintasi Sungai Ciliwung. Jembatan tersebut menghubungkan Depok lama dengan Depok II. Jembatan yang juga memberikan akses ke arah Bogor itu dibangun antara tahun 1917 sampai 1918 saat VOC masih berkuasa. Nama ‘panus’ sendiri diambil dari Stefanus Leander. Ia merupakan arsitek Belanda yang merancang Jembatan Panus. Jembatan dengan panjang 100 meter dan lebar 5 meter tersebut digunakan sebagai jalur penghubung hingga tahun 1990.

Bangunan zaman kolonial lain yang hingga saat ini masih berdiri kokoh adalah Gereja Immanuel Depok. Ruang keagamaan yang berada di Jalan Pemuda, Depok Lama. Gereja tersebut dibangun oleh Cornelis Chastelein pada abad ke-18. Bangunannya bergaya Renaissance seperti gereja- gereja yang biasa ditemui di pedesaan Belanda. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi Anda masih dapat menemukan gaya khas arsitektur Belanda pada dinding serta bingkai pintu dan jendela.

Tempat bersejarah yang selanjutnya adalah Pondok Cina di Jalan Margonda Raya. Daerah tersebut merupakan pemukiman Tionghoa-Jawa di bawah pemerintahan VOC yang tertua di Indonesia. Kerjasama etnis Cina dengan Kolonial Belanda di Pondok Cina telah berlangsung sejak abad ke-17. Daerah tersebut bahkan sudah berdiri sebelum Cornelis Chastelein mengembangkan wilayah Depok. Peninggalan sejarah yang dapat ditemukan di sini adalah kompleks rumah tua dan pemakaman Tionghoa.

Bangunan gaya Kolonial juga dijumpai di bekas rumah tuan tanah yang ada di daerah Cimanggis. Rumah tinggal tersebut dibangun antara tahun 1775 – 1778. Rumah tersebut dibuat oleh David J. Smith untuk mengganti pesanggrahan sederhana milik Gubernur Jenderal van der Parra. Arsitektur rumah tuan tanah ini mencitrakan bangunan Belanda abad ke-18. Atapnya yang tinggi dan lebar disangga oleh tiang dari batu bata. Jendelanya juga besar dan memiliki bentuk melengkung di bagian atasnya.

Kawasan Bangunan Kolonial dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi. Dari Jakarta Anda cukup mengikuti rute menuju Depok. Selanjutnya ikuti Jalan Raya Pasar Minggu hingga sampai di Jalan Margonda Raya tempat bangunan kolonial berdiri.

Selama berada di Depok Anda juga bisa berwisata ke Kampung Rusa, Godong Ijo, serta Masjid Kubah Emas. Selama berwisata di kawasan Depok Anda bisa menginap di Hotel Santika BSD City Serpong, Kinari Residence, atau Aston Paramount Serpong Hotel and Conference Cente. Peta Lokasi : View Larger Map Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Sejarah Masuknya VOC, Depok Memilik Cornelis Chastelein

Gereja GPIB Immanuel
Berawal pada akhir abad ke 17 (ada yang mengatakan pada tanggal 18 Mei 1696, ada juga pada tanggal 13 Maret 1675), seorang saudagar Francis, bergabung dengan  VOC masuk ke Indonesia , bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di Jatinegara, Kampung Melayu, Karanganyar, Pejambon, Mampang dan Depok.

Adapun tanah Depok di beli dengan harga 700 ringgit, dan status tanah itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda.

Untuk memelihara tanah yang subur, dengan sawah yang menghampar luas diperlukan tenaga kerja. Maka Chastelein membeli pekerja-pekerja yang berjumlah sekitar 150 orang dari pulau Sulawesi, Kalimantan, Bali dan dari Betawi. Sayang sekali data persis mengenai asal muasal pekerja ini tidak diketahui. Sejak itulah Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah, yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan dari luar.
Daerah otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Ternyata pemerintah Belanda di Batavia menyetujui pemerintahan Chastelein ini, dan menjadikannya sebagai kepala negara Depok yang pertama.

Sebelum Chastelein meninggal pada tanggal 28 Juni 1714, ia sudah mempersiapkan sebuah surat wasiat yang isinya memerdekakan seluruh pekerja beserta keluarganya. Ia juga membuat para pekerja-pekerja untuk menganut agama Kristen Protestan dan setiap kepala keluarga diminta untuk memakai nama-nama sebagai berikut :
SOEDIRA, LEANDER, LAURENS , JONATHANS, LOEN ,  THOLENSE ,  SAMUEL,  JOSEPH , BACAS ,  JACOUB , ISACH,  ZADOKH

Tapi ada satu isi surat wasiat Chastelien yang membuat berang gubernur jendral Belanda di Batavia, yaitu tentang di wariskannya tanah Depok kepada para pekerjanya. Maka dengan segera pemerintah Belanda mengirim utusan untuk membatalkan isi surat wasiat tersebut, dan mengubahnya menjadi tanah Depok yang diwariskan kepada anak Chastelein.
Gedung rumah sakit harapan (dulu gedung pemerintahan .

Bagi pemerintah Belanda pengguguran surat wasiat itu cukup beralasan, sebab dalam undang-undang pemerintah kerajaan Belanda, tidak di benarkan seorang Belanda mewariskan hartanya kepada orang lain, di luar orang Belanda.

Tapi pemerintah Belanda masih mau bersikap luwes. Dibalik surat wasiat Chastelein disebutkan, bahwa para pekerja masih diijinkan menggarap tanah yang selama ini mereka kerjakan dengan status hak pakai. Secara hukum berarti para bekas pekerja berstatus penggarap sekaligus berhak menikmati sebagian hasil dari garapannya.
Dan nyatanya, lama kelamaan hak pakai atas tanah tersebut berubah menjadi hak milik. Atau dikenal dengan Deelgerehtigen. Pada jaman pendudukan Hindia Belanda, para bekas pekerja ini memang bisa hidup cukup enak. Mereka berpendidikan, bekerja di pemerintahan dan menjadi petani kaya dengan tanah puluhan hektar.
Namun pada ketika jaman pendudukan Jepang, mereka mulai merasakan kesulitan hidup. Dan titik baliknya nasib mereka adalah ketika Indonesia merdeka.

Rasa cemburu penduduk sekitar Depok tak tertahankan, karena Belanda meng-anakemas-kan Depok selama 2 abad lebih. Orang-orang Depok banyak yang mati dan harta mereka banyak yang di rampok.

Lapangan bola Kamboja & pemakaman
Pada tanggal 4 Agustus 1952. Pemerintah Indonesia , waktu itu mengeluarkan ganti rugi sebesar Rp. 229.261,26,-. Seluruh tanah partikelir Depok menjadi hak milik pemerintah RI, kecuali hak-hak eigendom dan beberapa bangunan : Geraja, Sekolah, Pastoran, Balai pertemuan, dan Pemakaman seluas 0,8621 ha.

Sejak itu pula berdiri LCC (lembaga cornelis chastelein), sebuah organisasi sosial yang mengurus sekolah, pemakaman, dan kesejahteraan penduduk Depok Lama.



Secara fisik Depok sudah berubah secara pesat, pada tahun 1982 Depok berubah dari kewedanaan menjadi kota administratif. Pusat-pusat perbelanjaan, Sekolah-sekolah, Gereja-gereja, Perumahan dan berbagai gedung lain terus berkembang dan bertambah..

RATU JAYA dan Bentrokan tambun 1869

Rama, kelahiran Ratu Jaya Depok, mengaku dirinya Pangeran Ali Basah. Pengakuan ini sangat mungkin benar. Karena di Ratu Jaya Depok terdapat makam Ratu Kiranawati, seorang ratu yang bertahta di Tanjung Jaya, Kampung Muara Tanjung Barat. Tanjung Jaya adalah vassal kerajaan Pajajaran.

Vassal, perwakilan kerajaan, Tanjung Jaya berfungsi sebagai pos pengutipan tol sungai untuk perahu yang melintas di kali Ciliwung yang mengalir di vassal itu. Berseberangan dengan lokasi istana Ratu Kiranawati adalah dermaga Condet. Kampung di sekitarnya hingga kini bernama Dermaga.

Ratu Kiranawati adalah permaisuri Raja Siliwangi Surawisesa (1521-1535). Sepeninggal suaminya, Ratu Kiranawati hijrah ke Depok. Kampung dimana ia bermukim diberi nama Ratu Jaya. Saya berpendapat pengakuan Rama bahwa ia seorang pangeran benar adanya, dan ini berarti ia keturunan Ratu Kiranawati.

Rama mengajarkan ilmu bela diri, dan sangat mungkin ia juga seorang guru kebatinan. Pengaruh Rama menyebar mulai dari Bogor, Parung, Batavia, Cibarusa, Tambun, Tegal Waru, dan Depok sendiri. Murid-muridnya banyak sekali. Mereka adalah petani.

Rama mengajarkan bahwa tanah yang berbatas antara kali Sadane (barat) dan kali Tarum (timur) adalah “tanah kita”. Karena itu kita harus rebut dari tangan Tuan Tanah Belanda. Konsep geografi yang diutarakan Rama sebenarnya wilayah Nusa Kalapa (nama wilayah Jakarta dulu berdasarkan peta Pangeran Panembong abad XVI). Pengetahuan ini mustahil dimengerti Rama jikalau ia bukan keturunan Ratu Kiranawati. Informasi ini merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya hingga Rama. Rama yang tergugat untuk merebut kembali tanah nenek moyangnya dulu. Rama menganjurkan pengikutnya untuk berontak melawan Belanda.

Motivasi pemberontakan yang dipimpin Rama terkonsepsi dengan jelas, yaitu membebaskan tanah warisan leluhur dari penguasaan Belanda. Mungkin tidak ada pemberontakan-pemberontakan petani yang motivasinya sejelas Rama.

Sasaran pemberontakan adalah kantor Asisten Residen Meester Cornelis di Tambun. Ada pun kantor Residen sendiri terletak di depan Stasion KA Jatinegara. Wilayah Tambun, dan sejumlah wilayah lain yang diclaim Rama, termasuk residensi Meester Cornelis.

Pilihan Rama tepat, karena penjagaan di kantor Residen lebih ketat daripada di Tambun. Di samping itu pengikut Rama lebih banyak di Tambun dan sekitarnya daripada di Jatinegara.

Pada bulan Maret 1869 Rama merayakan pesta perkawinan puterinya. Tamu-tamunya datang dari segala pelosok. Pada kesempatan itu Rama mengumumkan bahwa pada tanggal dua bulan haji (Zulhijjah) akan terjadi gerhana matahari. Itu bertepatan dengan tanggal 3 April 1869. “Pada malem gerhana kita kudu serang Belanda, lantaran ia kagak ngeliat”.

Dengan 300 orang pengikutnya Rama menyerang kantor Asisten Residen Meester Cornelis di Tambun tanggal 3 April 1869. Asisten Residen dan 7 orang pegawai dan pengawal tewas seketika.

Rama dan pembantu terdekatnya menghilang. Pada tanggal 17 Juni 1869 Rama dengan 23 orang pengikutnya tertangkap. Rama dan dua orang pengikutnya dieksekusi di tempat. Sedangkan yang 21 orang diproses di landraad Meester Cornelis, pengadilan Jatinegara.

Semua petani pemberontak yang 21 orang itu dijatuhi hukuman mati gantung kepala. Pada bulan Agustus 1869 eksekusi dilaksanakan di lapangan militer Jatinegara, sekarang lapangan Jenderal Urip Sumohardjo.

Proses pelaksanaan eksekusi dilakukan bergelombang. Dan disaksikan khalayak ramai. Pertama 9 orang digantung. Yang belum digantung sebanyak 12 orang ikut menyaksikan penggantungan itu dengan kaki dan tangan dirantai.

Tiba-tiba seusai pelaksanaan penggantungan yang 9 orang, kepala algojo mengumumkan bahwa yang 12 orang urung digantung. Residen dengan berkuda datang ke lapangan eksekusi menyatakan 12 orang yang tersisa itu dikenakan hukuman kerja paksa selama 15 tahun.

Ini menimbulkan teka-teki para pengamat sejarah kolonial. Saya berpendapat ketika proses eksekusi sedang dilaksanakan datang pemberitahuan melalui telegraaf dari kerajaan Belanda bahwa hukuman mati itu harus dibatalkan. Tetapi sudah terlanjur dilaksanakan pada 9 orang.

Pada saat itu di Belanda mulai muncul benih-benih emansipasi, yaitu tuntutan agar pemerintah kolonial Belanda menyamakan (emansipasi) perlakuan antara rakyat jajahan dengan rakyat Belanda. Tuntutan ini pengaruh dari Perancis yang pernah menjajah Belanda.

Tetapi tuntutan ini kalah pengaruhnya dengan semangat kolonialisme kerajaan Belanda dan pegawai-pegawainya di tanah jajahan. Dalam menghadapi pemberontakan mereka bersikap membunuh pelakunya di tempat, tanpa harus dibawa ke landraad. Ini dilakukannya dalam menghadapi pemberontakan Condet tahun 1916, Kalin Bapa Kayah tahun 1924, dan sebelumnya pemberontakan tunggal si Pitung tahun 1894.

Mereka yang terpengaruh pada gagasan emansipasi hanya sekelompok kecil intelektual seperti Snouck Hurgronye.

Pemberontakan petani Tambun 1869 mematahkan mitos bahwa rakyat kecil itu bersikap nrimo, menerima apa saja perlakuan terhadap dirinya walau seburuk apa pun. Ternyata mitos itu tidak benar. Pada saatnya rakyat kecil berbicara dengan bahasanya sendiri.
(Tulisan ini disiapkan dengan bantuan Saudara Yahya Andi Saputra)

Situs Sejarah Depok

Sejarah Depok
Depok Zaman Prasejarah 
Penemuan benda bersejarah di Wilayah Depok dan sekitarnya menunjukan bahwa Depok telah berpenghuni sejak jaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir "Gagang Golok", Punden Berundak "Sumur Bandung", Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan Sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit. Depok Zaman Padjajaran Pada Abad ke 14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang Raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang sungai ciliwung terdapat beberapa Kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres sampe keradenan terbentang benteng yang sangat kuatsehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibentuk Demak, Cirebon dan Banten. Depok berjarak sekitar 13 Km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan: masih terdapatnya nama - nama Kampung atau Desa yang menggunakan Bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Karang Anyar, Cisalak dan Lain-lain. Dr.NJ.Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta. Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan. di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. senjata ini mereka terima turun-temurun. saat dahulu terjadi perang antara Padjajaran dengan Banten-Cirebon (Islam) tentara Padjajaran membangun "Padepokan" untuk melatih para prajuritnya untuk mempertahankan kerajaan,. Padepokan ini dibangun dekat sungai ciliwung. Terletak antara pusat Kerajaan Padjajaran (Bogor) dan Sunda Kelapa (Jakarta) dan di Daerah ini yang menjadi wilayah Depok sekarang. Pemakaman umum (TPU) Srengseng Rt 6 Rw 5 Gang Ceplik, Ratujaya ada Makam : Keramat Raden Sajam Asal muasal Daerah Ratujaya dan namanya berasal dari Putri Ningrumsari dari kerajaan Mataram, Memiliki selendang indah dan sakti saat Daerah itu masih Hutan Belantara. Areal tersebut kini jadi tempat pemakaman Ratujaya. Letaknya tidak jauh dari Kantor Kelurahan Ratujaya. Wilayah Depok pada ratusan Tahun yang lampau merupakan Daerah perlintasan para Raja baik Kerajaan Mataram maupun Prabu Siliwangi yang akan berkunjung ke Banten maupun sebaliknya. Jadi Depok ini dulunya boleh dibilang sebagai tempat istirahatnya Raja - raja yang akan berkunjung ke Banten dan Cirebon maupun sebaliknya. di Wilayah ini ada Hutan kecil yang sekarang disebut engan Cagar Alam dan ada Pancuran yang kini menjadi Pancoranmas.

Refrensi Situs Sejarah Depok

Penyebaran Islam di Betawi Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. 

Masjid ini dibangun oleh orang Moor — artinya pedagang Islam dari Koja (India). Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota. Untuk mengetahi sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. 

Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro. Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. 

Di kemudian hari, seorang santri pesantren itu, yakni Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya. Menurut Ridwan Saidi, di kalangan penganut agama lokal, mereka yang beragama Islam disebut sebagai kaum langgara, sebagai orang yang melanggar adat istiadat leluhur dan tempat berkumpulnya disebut langgar. Sampai sekarang warga Betawi umumnya menyebut mushola dengan langgar. Sebagian besar masjid tua yang masih berdiri sekarang ini, seperti diuraikan Heuken, dulunya adalah langgar. Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), 

Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke. Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi. Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik — melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake. Dato-dato umumnya menganut tarekat. 

Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Ridwan mencontohkan rersi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur). Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar komplek Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maen pukulan syahbandar yang dibangun oleh Wa Item. 

Wa Item adalah syahbandar pelabuhan Sunda Kalapa yang tewas ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan luar yang dipimpin Falatehan (1527). Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang. Resi ini menyebut dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar. Tantangan yang demikian berat mendorong tumbuhnya tradisi intelektual Betawi. 

Seperti dituturkan Ridwan Saidi, intelektualitas Islam yang bersinar di masyarakat Betawi bermula pada abad ke-19 dengan tokoh-tokoh Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat. Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Di sini lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di sini juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi. Kemudian, sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba, yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah ia secara teratur pulang ke Betawi. 

Guru Mujitaba selalu membawakitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang, yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili. Juga, sentra Tanah Abang, yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900. Sebelumnya, Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri. (Alwi Shahab )

Situs Sejarah Sumur Tujuh di Depok yang Dikunjungi pada Jumat Kliwon

Makam Mbah Raden Wujud Beji

DEPOK – Berbicara mengenai sumur tujuh yang terletak di kelurahan Beji Depok, maka yang terlintas dibenak orang adalah tempat yang berbau mistik. Tidak salah memang bila sebagian orang beranggapan demikian karena memang tempat ini ramai didatangi orang khususnya pada malam Jumat Kliwon.
Tempat ini sering didatangi para pesiarah yang melakukan ritual di makam Mbah Raden Wujud Beji. Mereka yang datang berasal dari Banten, Blitar, Pacitan dan sebagainya. Pada umumnya mereka melakukan ritual dengan mandi sumur tujuh dengan harapan agar usahanya sukses dan bagi mereka yang lajang segera mendapat jodoh.
Menurut Engkong Nakin bin Riun (90), juru kunci sumur tujuh tersebut, disebut sumur tujuh karena sumurnya berjumlah tujuh buah. Lima sumur berada di dalam areal Masjid Nurul Salam Depok Utara, sedangkan 2 sumur lagi berada di Jalan Leli dan Jalan Kutilang Depok I.
Meski disebut dengan sumur tujuh, namun bentuknya tidak berupa sumur melainkan kolam-kolam yang letaknya di bawah rimbunan pohon. Di beberapa sudut kolam terdapat kamar mandi tempat pesiarah mandi dengan menggunakan air dari sumur tersebut.
Engkong Nakin menjelaskan, keberadaan sumur tujuh ini erat kaitannya dengan Mbah Raden Wujud Beji, penguasa wilayah Beji dan Kramat Beji. Namun dia enggan menceritakan asal muasal dari Mbah Raden Wujud Beji. ”Buat apa ditanya asal muasalnya. Wujud itu artinya ada. Di sini ada bukti dan nyata. Setiap orang yang berziarah ke tempat ini harus mandi di 7 sumur tersebut dalam waktu 1 jam,” ujarnya.
Ia juga mengakui,menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung di Kota Depok ini, banyak pejabat yang datang berziarah ke sana. ”Pejabat yang datang tidak berseragam. Tetapi dari penampilannya Engkong bisa tebak. Itu jam merupakan sumbangan dari salah seorang petinggi polisi di Bogor,” lanjut bapak dari 13 anak ini sambil menunjukkan salah satu jam dinding yang terpampang di dinding pendopo.
Di dekat Masjid Nurul Salam memang ada sebuah pendopo tepatnya di bawah pohon beringin. Di dalam pendopo tersebut terpampang foto Sunan Gunung Jati, Presiden Soekarno, lukisan ratu kidul dan beberapa foto pendekar Banten. Di sana juga terdapat sebuah kamar yang hanya diterangi lampu remang-remang. Di situ terdapat berbagai macam senjata, keris, golok, peninggalan zaman kerajaan Padjajaran. Ruangan tersebut memang pengap karena selain tidak ada ventilasi udara juga dipenuhi oleh asap dupa dan kemenyan.
Situs Sejarah
Namun di balik nuansa mistik tersebut, sumur tujuh sebetulnya merupakan salah satu situs sejarah yang dimiliki Kota Depok. Dari beberapa referensi disebutkan bahwa sejak kerajaan Padjajaran dikalahkan oleh kerajaan Islam di Sunda Kelapa hal ini berakibat hubungan Sunda Kelapa dengan daerah luar menjadi terputus.
Tetapi kemenangan atas Sunda Kelapa tidak serta merta mampu membawa pengaruh Islam masuk ke pusat kerajaan Pakuan. Meski demikian, saluran penyebaran Islam masih mampu bergerak dengan jalan damai dan sedikit demi sedikit diterima oleh penduduk pinggiran kerajaan Sunda Padjajaran yang tertarik dengan sifat egaliter yang dibawa oleh Islam.
Kerajaan Sunda Padjajaran sebagai benteng terakhir kerajaan Hindu-Budha di pulau Jawa akhirnya dapat ditaklukkan dengan tentara Islam Cirebon di bawah pimpinan Maulana Hasanudin dan anaknya Maulana Yusuf pada tahun 1559.
Hubungan Banten dan Cirebon kala itu melalui jalur darat yang pada masa kerajaan Sunda Padjajaran terhambat di wilayah Bogor dan sekitarnya telah berhasil diruntuhkan dengan runtuhnya kerajaan tersebut. Wilayah Depok yang berada di sisi sungai Ciliwung merupakan wilayah yang sering dilalui utusan dari Banten dan Cirebon.
Bukti sejarah peninggalan tentara Islam di Depok salah satunya adalah petilasan Mbah Raden Wujud Beji. Pada dinding di dalam bangunan makam tersebut tergantung beberapa untaian kata yang berisi nasihat yang pernah diucapkan Mbah Raden Wujud Beji. Sumur tujuh sendiri sebenarnya merupakan kolam mata air atau biasa disebut kolam keramat.
Namun keberadaan sumur tujuh dan makam Mbah Raden Wujud Beji memang harus dilestarikan oleh pemerintah Kota Depok karena selain sebagai situs sejarah juga bisa dijadikan salah satu objek wisata bersejarah.
Pemerintah Kota Depok memang telah memasukkan tempat tersebut dalam peta wisata, tetapi perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat sehingga keberadaan situs bersejarah ini tidak punah dilekang waktu. (SH/stevani elisabeth).

Wisata Religi , Makam Keramat Beji

Makam/Petilasan Mbah Raden Wujud Beji merupakan bukti sejarah kehadiran tentara Islam di Depok. Selain makam Mbah Raden Wujud Beji, di dalam sebuah bangunan yang dinaungi oleh kerimbunan pohon beringin, Anda akan menemukan peninggalan beberapa jenis senjata tentara Islam Banten. Koleksi senjata tersebut tersusun rapi di samping petilasan Mbah Raden Wujud Beji.
Pada dinding di dalam bangunan makam tersebut tergantung beberapa untaian kata yang berisikan nasihat yang pernah diucapkan oleh Mbah Raden Wujud Beji. Setiap tanggal 14 bulan Maulud, kompleks makam ini ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah, seperti dari Banten dan Cirebon.
Ritual tertentu juga masih dijalankan oleh beberapa pengunjung yang sangat percaya dengan keberkahan tempat ini. Mandi di tujuh sumur yang tersebar di daerah sekitarnya merupakan ritual khas yang dijalankan beberapa peziarah.
Sumur Tujuh, yaitu sumur-sumur yang termasuk dalam tujuh sumur keramat, sebenarnya merupakan sebuah kolam mata air. Lima sumur di antaranya berada di bawah kerimbunan pohon beringin. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Sumur Tujuh, namun kuncen penjaga sumur-sumur keramat dan para peziarah menyebutnya dengan nama “Sumur Tujuh Beringin Kurung”.
Mungkin semula merupakan patirthan, yang artinya dikeramatkan, yang di dekatnya pernah bermukim para ajar dan kaum pertapa. Cerita rakyat tentang cai kahuripan, air yang bersinar seperti emas, air yang dapat menyembuhkan orang sakit sampai sekarang masih dipercaya. Oleh karena itu banyak orang yang datang berkunjung ke sumur-sumur keramat itu, bahkan dari luar Depok sekalipun.
Lokasi: Jalan Kemiri Muka, Desa Kramat Jaya, Kecamatan Beji
Koordinat : 06°23’089″ S, 106° 48’614″ E
 
Redaksi : ................................................... Creating Website Kampret
Copyright © 2011. Media Warga Kota Depok - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger